![]() |
| EMBUNG: Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin menggagas pembangunan embung mini di kawasan pengembangan program pangan, Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar - Foto Dok |
HABARIAJA.COM, BANJAR – Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin menggagas pembangunan embung mini di kawasan pengembangan program pangan, Jalan Gubernur Syarkawi, Kabupaten Banjar, Senin (19/10/2026) sore. Embung tersebut disiapkan sebagai sumber air untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan helikopter melalui metode water bombing.
Pembangunan embung mini ini merupakan salah satu upaya mempercepat penanganan karhutla, khususnya di kawasan gambut yang membutuhkan pemadaman api sekaligus pembasahan lahan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.
Dalam peninjauan lokasi, Muhidin didampingi Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Kalimantan Selatan Kombes Pol. Sentot Adi Dharmawan, serta Danrem 101/Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus.
Embung dirancang sebagai tempat pengambilan air bagi helikopter agar proses pengisian air dapat berlangsung lebih cepat sehingga mendukung efektivitas pemadaman dari udara.
Muhidin menjelaskan, kawasan tersebut merupakan lahan yang dibebaskan pemerintah daerah sejak 2021 untuk pengembangan tanaman jagung. Lahan seluas ratusan hektare itu diharapkan dapat kembali dimanfaatkan untuk program pangan setelah penanganan karhutla selesai.
“Insyaallah nanti mungkin kita tanam kembali di sini. Nah, ini ada beberapa ratus hektare,” ujar Muhidin saat meninjau lokasi.
Ukuran Embung Disesuaikan dengan Kondisi Lapangan
Untuk mempercepat pembangunan, ukuran embung mini disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dari rencana awal berukuran 50 × 25 meter, desain embung diubah menjadi 20 × 20 meter dengan kedalaman sekitar dua meter.
Menurut Muhidin, ukuran tersebut dinilai memadai untuk mendukung pengambilan air oleh helikopter dalam operasi water bombing.
Ia menargetkan pembangunan embung dapat diselesaikan pada Senin sore, kemudian dilanjutkan dengan persiapan bahan pembasah agar fasilitas tersebut dapat segera dimanfaatkan oleh tim gabungan penanganan karhutla.
“Sore ini kita sudah bisa selesaikan untuk pembuatan embungnya, untuk pencampuran chemical-nya. Mungkin nanti sudah bisa dipergunakan untuk tim pemadam,” jelasnya.
Pembasahan Penting untuk Mencegah Api Kembali Menyala
Muhidin menjelaskan, penyediaan sumber air menjadi penting karena kawasan yang ditangani merupakan lahan gambut dengan ketebalan hampir tiga meter. Area yang membutuhkan pembasahan diperkirakan mencapai 300 hektare.
Karakteristik lahan gambut membuat penanganan kebakaran memerlukan upaya lebih dari sekadar memadamkan api yang terlihat di permukaan. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan berpotensi memicu kebakaran kembali apabila pembasahan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu, pembangunan embung mini diharapkan dapat mempercepat pengambilan air oleh helikopter sekaligus mendukung proses pemadaman dan pembasahan lahan terdampak.
Selain memperkuat penanganan karhutla, langkah tersebut diharapkan membantu menjaga kawasan yang sebelumnya disiapkan untuk pengembangan tanaman pangan agar dapat kembali dimanfaatkan setelah kondisi dinyatakan aman. (adp/ak)
