| HUT: Pasar Modal Indonesia masuki usia ke-49 - Foto BEI. |
HABARIAJA.COM, JAKARTA – Pasar modal Indonesia memasuki usia ke-49 sejak diaktifkannya kembali, dengan berbagai penguatan dilakukan untuk meningkatkan kualitas, integritas, efisiensi, dan daya saing di tengah dinamika pasar global.
Momentum tersebut ditandai melalui peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada Senin (10/8/2026).
Mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Tepercaya dan Tangguh”, rangkaian kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan perdagangan di Main Hall BEI dan dilanjutkan konferensi pers OJK bersama SRO.
BACA JUGA: ETF Emas Perdana Resmi Melantai di BEI, Jadi Pilihan Investasi Baru
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto mengatakan, momentum HUT ke-49 menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan Indonesia.
“Peringatan ini menjadi momentum untuk menjaga kepercayaan para investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan internasional dan nasional karena pasar modal selalu merupakan proxy ekonomi yang dilihat oleh para investor, terutama pada saat-saat yang strategis.”
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung menyebut pasar modal sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pemerintah akan terus bersinergi dengan OJK dan BEI sebagai SRO, para pelaku pasar modal dan seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya untuk membangun pasar keuangan yang makin dalam, inklusif, inovatif, tetapi tetap prudent dan credible. Empat puluh sembilan tahun perjalanan pasar modal Indonesia menunjukkan bahwa pasar kita terus berkembang.”
Salah satu tonggak baru dalam peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia adalah peluncuran ETF Emas perdana di pasar modal Indonesia.
Sebanyak lima produk ETF Emas resmi dicatatkan dan diterbitkan oleh lima manajer investasi. Produk tersebut memberikan alternatif bagi investor untuk mendapatkan eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa tanpa harus memiliki emas fisik.
Kehadiran ETF Emas diharapkan dapat memperluas pilihan diversifikasi investasi, meningkatkan akses investor ritel maupun institusi, serta mendukung pendalaman pasar modal dan pengembangan ekosistem bullion nasional.
Di tengah berbagai tantangan global dan volatilitas pasar, jumlah investor pasar modal Indonesia justru terus mengalami pertumbuhan.
Berdasarkan data hingga 7 Agustus 2026, jumlah investor pasar modal yang mencakup investor saham, obligasi, dan reksa dana telah mencapai 30,3 juta investor.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 9,9 juta investor dan menjadi pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah. Sekitar 1,4 juta investor tercatat aktif melakukan transaksi setiap bulan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica W. Dewi menilai pertumbuhan tersebut bukan sekadar persoalan angka, tetapi menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), IHSG ditutup pada level 6.409,65. Sepanjang 2026, IHSG sempat mencatat sembilan kali rekor all-time high dan mencapai level tertinggi 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Kapitalisasi pasar juga sempat mencapai rekor tertinggi Rp16.640 triliun pada 19 Januari 2026. Sementara frekuensi transaksi saham tertinggi mencapai 5,01 juta transaksi pada 12 Januari 2026.
Dari sisi penghimpunan dana, hingga periode tersebut telah tercatat tujuh saham baru sehingga jumlah perusahaan tercatat mencapai 962 perusahaan. Total dana yang dihimpun melalui pasar modal mencapai Rp122,8 triliun.
Sementara itu, jumlah investor yang terus bertambah menunjukkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam pasar modal.
Selain pertumbuhan investor dan produk investasi, penguatan pasar modal juga dilakukan melalui reformasi dan peningkatan infrastruktur.
BEI bersama SRO dan OJK telah menjalankan sejumlah agenda reformasi yang mencakup transparansi kepemilikan saham, penyempurnaan kebijakan free float, klasifikasi investor, serta penguatan pengawasan terhadap konsentrasi kepemilikan saham.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa transformasi pasar modal akan terus dilanjutkan.
“Momentum HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia menegaskan komitmen BEI untuk terus melanjutkan transformasi dan reformasi secara berkelanjutan. BEI terus menunjukkan usaha dalam memperkuat integritas, transparansi, dan daya saing pasar modal guna mewujudkan pasar modal Indonesia yang semakin tepercaya dan tangguh serta berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.”
Di sisi lain, KPEI terus meningkatkan efisiensi kliring, manajemen risiko dan pengembangan layanan pasar modal maupun Pasar Uang dan Valuta Asing (PUVA).
Hingga akhir Juli 2026, rata-rata nilai penyelesaian transaksi bursa melalui mekanisme kliring secara netting mencapai Rp6,65 triliun, meningkat sekitar 48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara KSEI mencatat pertumbuhan Single Investor Identification (SID) sebesar 49 persen, dari 20,35 juta pada 2025 menjadi 30,3 juta per 7 Agustus 2026.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat mengatakan penguatan pasar modal terus dilakukan untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan kepercayaan investor.
“Meskipun pasar modal Indonesia menghadapi berbagai dinamika sejak awal tahun 2026, namun KSEI bersama OJK dan SRO senantiasa berupaya menjaga stabilitas, integritas, dan daya saing pasar modal Indonesia melalui berbagai kebijakan dan inisiatif strategis, termasuk implementasi 8 (delapan) Rencana Aksi Percepatan Pasar Modal Indonesia. Berbagai langkah tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global, untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Data pertumbuhan investor yang tercatat di KSEI juga terus menunjukkan peningkatan, yang merupakan wujud dari tetap terjaganya kepercayaan investor pasar modal.”
BACA JUGA: Ananda Tanamkan Semangat dan Mental Juang kepada Capaskibraka Banjarmasin
Ke depan, OJK bersama BEI, KPEI dan KSEI akan terus memperkuat integritas pasar, meningkatkan efisiensi dan manajemen risiko, memperluas akses investasi, mengembangkan produk baru serta meningkatkan konektivitas pasar modal Indonesia dengan pasar global.
Momentum HUT ke-49 tersebut menjadi bagian dari perjalanan transformasi pasar modal Indonesia menuju ekosistem investasi yang semakin kuat, terintegrasi, inklusif dan mampu memberikan pilihan investasi yang lebih beragam bagi masyarakat. (rls/ak)