Trending

Habari Aja

Pemprov Gelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Kalsel

 

PERTEMUAN: Pertemuan tersebut dipimpin Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, di kediamannya di Banjarmasin, Minggu malam (8/3/2026) - Foto Do Adp


HABARIAJA.COMBANJARMASIN – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menggelar pertemuan bersama sejumlah lembaga terkait untuk membahas kondisi inflasi daerah yang tergolong tinggi secara nasional.

Pertemuan tersebut dipimpin Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, di kediamannya di Banjarmasin, Minggu malam (8/3/2026). Rapat digelar sebagai tindak lanjut arahan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, terkait upaya pengendalian inflasi di daerah.

Pertemuan itu dihadiri perwakilan Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan, serta jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

BACA JUGA: Tim Penyidik OJK Geledah Kantor PT MASI, Diduga Lakukan Penipuan Pasar Modal

Berdasarkan data BPS, inflasi Kalimantan Selatan pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,86 persen secara bulanan atau month to month (MtM). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada pada level 0,68 persen.

Sementara itu, secara tahunan atau year on year (YoY), inflasi Kalimantan Selatan mencapai 5,97 persen, juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 4,76 persen.

Kepala BPS Kalimantan Selatan, Mukhamad Mukhanif, menyebutkan sejumlah komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi di daerah tersebut, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, beras, daging ayam ras, serta sigaret kretek mesin.

Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, mengatakan tingginya inflasi di daerahnya terutama dipengaruhi oleh komponen listrik dan emas.

“Penyumbang inflasi paling tinggi pertama listrik, kedua emas, dan selebihnya komoditas lain. Untuk listrik secara nasional sebenarnya hampir sama karena tahun lalu ada program diskon listrik 50 persen, sehingga dalam perbandingan tahunan terlihat meningkat,” ujarnya.

Ia menambahkan, komoditas emas juga menjadi perhatian karena tingginya minat masyarakat Kalimantan Selatan terhadap emas perhiasan.

“Di Kalsel ini daya beli masyarakat terhadap emas perhiasan cukup tinggi, bahkan inflasinya lebih tinggi dibandingkan nasional,” kata Muhidin.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih mempertimbangkan jenis investasi emas yang dipilih.

“Kami mengimbau masyarakat jika ingin berinvestasi emas sebaiknya memilih emas batangan, bukan perhiasan, karena lebih aman sebagai investasi dan nilainya lebih stabil,” ujarnya.

BPS mencatat harga emas perhiasan dalam setahun terakhir mengalami kenaikan hingga 78,99 persen, sehingga memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi di Kalimantan Selatan.

Muhidin juga menjelaskan bahwa angka inflasi tahunan akan jauh lebih rendah jika tidak dipengaruhi oleh dua faktor tersebut.

“Jika tanpa diskon listrik pada Februari 2025 dan tanpa perubahan harga emas, inflasi di Kalsel diperkirakan hanya sekitar 1,87 persen,” jelasnya.

Di sisi lain, kontribusi inflasi dari sektor pangan dinilai relatif kecil. Pemerintah daerah juga memastikan ketersediaan pasokan bahan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri dalam kondisi cukup.

“Untuk pangan relatif rendah. Stok bahan pokok di Kalsel juga cukup menjelang Lebaran sehingga diharapkan harga tetap stabil,” kata Muhidin.

BACA JUGA: HM Yamin Komitmen Benahi Wajah Kota Banjarmasin

Ia juga menilai tingginya minat masyarakat membeli emas berkaitan dengan kondisi ekonomi daerah yang cukup baik.

“Perekonomian Kalsel cukup bagus dan berada di atas nasional, sehingga daya beli masyarakat meningkat, termasuk dalam membeli emas,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama lembaga terkait akan terus melakukan koordinasi guna menjaga stabilitas harga serta mengendalikan inflasi di daerah. (adp/ak)

Lebih baru Lebih lama